Dosen UKRIDA Denni Boy Saragih, S.K.M., M.Div., M.Th., Ph.D.(Dok. Istimewa)
Dalam beberapa tahun terakhir, kita banyak membaca berita dunia pendidikan yang mengernyitkan dahi: guru yang menampar muridnya karena kemarahan, pendidik yang mempermalukan siswa di depan kelas karena latar belakangnya, dosen yang merendahkan mahasiswa dengan pelecehan, hingga guru dan dosen yang menjadikan ruang kelas sebagai ladang transaksi. Semua ini mengusik kesadaran publik karena bertentangan dengan gambaran dasar seorang pendidik. Pendidik adalah penjaga masa depan, bukan perusaknya. Ini bukan sekadar kasus. Daftar tersebut bisa dibaca sebagai gejala dari terputusnya profesi tersebut dari panggilan mendasar yang menjadi fondasi lahirnya pendidikan: menumbuhkan kemanusiaan.
Ki Hajar Dewantara merumuskan gagasan ini dengan indah: pendidikan adalah proses “memanusiakan manusia”. Namun frase ini, meski sering dikutip, jarang direnungkan dengan serius. Memanusiakan manusia bukan sekadar mengajarkan materi, melainkan menghadirkan proses di mana martabat setiap individu dijaga, potensinya disuburkan, dan kebebasannya dibentuk menjadi tanggung jawab. Dengan kata lain, pendidikan bukan hanya transfer pengetahuan, tetapi pembentukan jiwa. Dan di titik inilah panggilan guru menjadi jelas: menjadi penjaga proses memanusiakan manusia.
Jika seorang guru menampar, menghina, melecehkan, atau mengkomersialisasikan pendidikan, ia bukan hanya melanggar kode etik. Ia mengkhianati hakekat pendidikan itu sendiri. Tindakan-tindakan tersebut mereduksi manusia menjadi objek. Naradidik menjadi objek kemarahan, objek eksploitasi, dan objek keuntungan. Mereka meruntuhkan struktur kemanusiaan yang seharusnya dijaga oleh profesi ini. Immanuel Kant mengatakan bahwa manusia tidak boleh diperlakukan sebagai sarana semata, tetapi sebagai tujuan. Ketika guru lupa ini, pendidikan kehilangan jantung hatinya.
Namun untuk memahami hakekat panggilan guru, kita perlu merenung lebih dalam lagi. Mengajar sebenarnya adalah tindakan yang berada di ruang antara pengetahuan dan pemaknaan. Di satu sisi, guru mentransmisikan informasi, namun di sisi lain, ia membentuk horizon berpikir dan cara pandang dunia. Di titik ini, tugas guru menjadi sangat dekat dengan pekerjaan seorang “moderator makna”. Seseorang yang membuka jalan agar anak-anak muda dapat memahami dirinya, komunitasnya, dan dunianya. Di dalam tradisi intelektual mana pun, peranan ini selalu dilihat sebagai sesuatu yang luhur karena berkaitan dengan pembentukan masa depan.
Dimensi “filosofis” dari panggilan ini dapat dirasakan meski tanpa bahasa religius dari agama tertentu. Setiap kali seorang guru menyapa muridnya, memberi ruang bagi pertanyaan paling sederhana sekalipun, atau menuntun mereka untuk menjadi lebih manusiawi, ia sedang ikut serta dalam sebuah karya yang lebih besar dari dirinya sebagai manusia. Pendidikan adalah pekerjaan yang menyentuh inti martabat manusia dan menghubungkannya dengan Tuhannya. Guru tidak hanya bekerja pada level fungsi sosial, tetapi juga pada tingkat eksistensial: menyentuh identitas dan harapan seseorang. Menghantarkannya untuk hidup benar dan bertanggung jawab di dunia yang Tuhan ciptakan. Karena itulah, profesi ini, jika dijalani dengan benar, membentuk hati dan jiwa, dan bukan sekedar kompetensi sosial ekonomi.
Sayangnya, kompleksitas realitas di Indonesia hari-hari ini membuat panggilan ini mudah terlupakan. Tekanan administratif, gaji yang tidak memadai, kelas yang penuh, serta budaya yang masih menghargai kepatuhan daripada dialog, membuat banyak guru kelelahan dan terjebak dalam rutinitas. Namun justru di tengah tekanan itu, kemurnian panggilan seorang pendidik diuji. Guru yang tetap memilih memanusiakan, bukan mendominasi, merangkul, bukan merendahkan, membimbing, bukan menaklukkan, mereka inilah yang sesungguhnya meneruskan roh pendidikan.
Di balik semua kompleksitas ini, kenyataannya tetap sederhana: banyak dari kita menjadi seperti sekarang ini karena seorang guru pernah melihat sesuatu dalam diri kita sebelum kita melihatnya sendiri. Guru yang sabar mengulang pelajaran ketika kita tidak paham. Ia memberikan kata-kata motivasi ketika kita tidak mampu. Ia memperlakukan kita sebagai pribadi, bukan sebuah nama di daftar hadir. Ini terjadi ketika seorang guru menyentuh batin seseorang. Ia sedang menabur benih yang akan tumbuh jauh melampaui ruang kelas.
Karena itu, meski kita perlu mengkritik praktik-praktik buruk yang mencoreng dunia pendidikan, kita juga perlu memulihkan penghargaan kepada para pendidik yang menjalankan tugasnya dengan dedikasi dan integritas. Mereka seperti penjaga hakekat kemanusiaan. Kelompok manusia yang membangun masa depan melalui karakter dan penanaman nilai-nilai bagi generasi muda. Di tengah dunia yang semakin cepat, dangkal, dan instrumental, guru seperti ini menjadi mercusuar yang mengingatkan bahwa masa depan tidak dibangun dengan kekerasan, manipulasi, atau transaksi, tetapi dengan ketulusan dan kesetiaan kepada tugas kemanusiaan.
Profesi lain mungkin menghasilkan benda; guru menghasilkan manusia. Dan selama kita masih percaya bahwa manusia adalah nilai tertinggi dalam peradaban, panggilan guru akan tetap menjadi salah satu panggilan paling mulia di dunia ini. Selamat Hari Guru 2025.
Penulis: Denni Boy Saragih, S.K.M., M.Div., M.Th., Ph.D. Dosen UKRIDA

4 days ago
3




















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5352887/original/013654100_1758144467-AP25260720491829.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5368069/original/029796200_1759335348-IMG_20251001_174918_465.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5325970/original/059384700_1756056711-000_72CF2LG.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363907/original/014665300_1758988648-000_76Y74T9.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5366602/original/044891100_1759247254-Ringkasan_Fitur_Baru_Live_Photos_WhatsApp.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5361596/original/000746300_1758788384-eliano.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5366653/original/038264600_1759266841-AP25273710964799-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5366659/original/028321500_1759267918-Bayern-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5348208/original/032607400_1757797637-000_74EN6UT.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5352880/original/027109500_1758141300-liverpool.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5365897/original/020999600_1759209823-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364361/original/085359400_1759083013-Project_Kuiper_Amazon.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5368592/original/052082700_1759382673-WhatsApp_Image_2025-10-02_at_11.55.17__2_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5368278/original/022363000_1759370649-UNCROPPED_HUAWEI_X_MO_FARAH_HIGH_RES_RETOUCHED_UNCROPPED_V1_4__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4752959/original/094993100_1708917074-AP24056660079487.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5366603/original/000012900_1759247693-WhatsApp_Image_2025-09-30_at_22.42.18__1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5368734/original/054940800_1759389006-4._OPPO_A6_Pro.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5368252/original/072723900_1759368570-MPL_ID_S16_01.jpg)