Di Antara Derap Kuda dan Deru Kota

4 days ago 8
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
Andong di Titik 0 kota Yogyakarta pada malam hari, berjalan berdampingan dengan kehidupan urban modern. (Sumber: Evan Faiz Daniswara)

Derap kaki kuda terdengar pelan di tengah ramainya jalanan Yogyakarta. Suara itu nyaris tenggelam oleh klakson kendaraan bermotor dan hiruk-pikuk wisatawan yang berlalu-lalang. Namun sebuah andong tetap melaju tanpa tergesa, mempertahankan ritmenya sendiri di kota yang terus bergerak cepat. Di kursi depan, Sithuk duduk tegak sambil menggenggam tali kekang, mengarahkan kudanya dengan gerakan yang sudah ia kuasai selama bertahun-tahun. Selama dua dekade, Sithuk menggantungkan hidup sebagai kusir andong. Profesi itu telah ia jalani sejak Yogyakarta belum seramai sekarang. Setiap hari, ia menyusuri kawasan wisatadan jalan-jalan utama kota, menyaksikan perubahan demi perubahan yang terjadi disekelilingnya. “Dulu penumpang ramai, apalagi kalau musim liburan. Sekarang sudah berkurang,” ujarnya pelan.

Meski demikian, Sithuk memilih tetap bertahan. Baginya, andong bukan sekadar alat transportasi, tetapi bagian dari perjalanan hidup yang tidak mudah ditinggalkan. Perubahan zaman menjadi tantangan terbesar bagi para kusir andong. Kehadiran kendaraan bermotor, ojek online, dan transportasi modern lainnya membuat andong semakin jarang dipilih sebagai sarana mobilitas. Namun Sithuk percaya, andong menawarkan pengalaman yang tidak bisa digantikan sepenuhnya oleh kendaraan lain. “Naik andong itu lebih santai. Jalannya pelan, bisa menikmati suasana,” katanya. Bagi Sithuk, pelan bukan berarti tertinggal, melainkan cara lain untuk menikmati kota.

Pandangan serupa juga disampaikan Yatidjo, kusir andong yang biasa mangkal di kawasan Malioboro. Setiap pagi sebelum mulai bekerja, ia memastikan kondisi kudanya dalam keadaan sehat. “Kuda itu partner kerja. Kalau tidak dirawat, kasihan dan tidak bisa kerja lama,” ujarnya. Menurut Yatidjo, hubungan antara kusir dan kuda bukan sekadar relasi kerja, tetapi juga soal tanggung jawab dan kepedulian. Yatidjo mengakui bahwa fungsi andong saat ini telah mengalami pergeseran. Jika dahulu andong digunakan sebagai alat transportasi harian, kini perannya lebih banyak sebagai bagian dari pengalaman wisata. “Sekarang yang naik kebanyakan wisatawan. Mereka ingin merasakan Jogja yang klasik, sambil foto-foto,” katanya.

Andong yang sedang melaju di Jalan A.M. Sangaji No.4. (Sumber : Evan Faiz Daniswara)

Meski tidak lagi menjadi pilihan utama untuk mobilitas, andong masih memiliki daya tarik tersendiri sebagai simbol budaya dan pengalaman khas Yogyakarta. Bagi sebagian orang, andong bukan hanya soal perjalanan hari ini, tetapi juga menyimpan kenangan masa lalu. Khalid Nurhaya, mahasiswa yang merantau dari Pati, termasuk salah satu yang memiliki ingatan personal tentang andong. Ia mengaku pernah naik andong saat masih kecil, ketika berwisata ke Yogyakarta bersama keluarganya. “Waktu itu rasanya senang. Jalannya pelan, bisa lihat-lihat kota bareng keluarga,” tuturnya. Pengalaman tersebut membekas hingga kini dan membentuk kesannya tentang Yogyakarta sebagai kota yang ramah dan tidak tergesa gesa.

Kenangan Khalid Nurhaya menunjukkan bahwa andong memiliki nilai emosional yang tidak selalu bisa dijelaskan dengan angka atau fungsi praktis. Bagi dirinya, andong bukan sekadar kendaraan, melainkan bagian dari pengalaman berwisata yang menyenangkan dan penuh kebersamaan. Meski kini ia lebih sering menggunakan transportasi modern, memori tentang andong tetap melekat sebagai bagian dari cerita masa kecilnya. Berbeda dengan Khalid Nurhaya, Raditya Zain yang juga mahasiswa rantau dari Kudus mengaku belum pernah naik andong. Selama tinggal di Yogyakarta, ia lebih sering menggunakan transportasi yang dianggap lebih praktis untuk menunjang aktivitas sehari-hari. “Biasanya pakai motor atau transportasi online,” katanya.

Meski belum merasakan langsung pengalaman naik andong, Raditya Zain menilai keberadaannya tetap penting dalam membentuk wajah kota. Menurut Raditya Zain, andong hadir sebagai penanda visual yang kuat di ruang publik Yogyakarta. “Andong itu sudah jadi ciri khas Yogyakarta. Kalau di kawasan wisata seperti Malioboro, hampir selalu kelihatan andong lewat,” ujarnya. Bagi Raditya Zain, andong mungkin bukan alat transportasi yang ia gunakan, tetapi keberadaannya memberi warna tersendiri pada kota tempat ia menuntut ilmu. Keberadaan andong hari ini memang berada di persimpangan antara tradisi dan modernitas. Di satu sisi, perubahan pola mobilitas masyarakat membuat andong semakin tersisih dari fungsi praktisnya.

Kusir andong yang sedang menungu penumpang di kawasan Malioboro. (Sumber: Evan Faiz Daniswara)

Di sisi lain, andong tetap bertahan sebagai simbol budaya, identitas kota, dan bagian dari pengalaman wisata. Para kusir seperti Sithuk dan Yatidjo berada di tengah perubahan tersebut, berusaha menyesuaikan diri tanpa sepenuhnya meninggalkan tradisi. Bertahan sebagai kusir andong bukan perkara mudah. Penghasilan yang tidak menentu, persaingan dengan transportasi modern, serta tuntutan perawatan kuda menjadi tantangan sehari-hari. Namun bagi Sithuk dan Yatidjo, profesi ini bukan sekadar soal ekonomi. Ada nilai, kebanggaan, dan tanggung jawab untuk menjaga keberadaan andong agar tidak hilang dari jalanan Yogyakarta.

Keberlangsungan andong juga sangat bergantung pada bagaimana masyarakat dan wisatawan memaknai keberadaannya. Di tengah upaya pelestarian budaya, andong sering kali hanya dipandang sebagai objek wisata, bukan bagian dari sistem transportasi yang pernah menopang kehidupan kota. Pandangan ini membuat andong hadir secara simbolik, tetapi belum tentu diiringi dengan perhatian terhadap kesejahteraan para kusir dan hewan yang menariknya. Sithuk menyadari perubahan tersebut. Ia mengatakan bahwa bekerja sebagai kusir andong hari ini membutuhkan kesabaran lebih. Tidak setiap hari ia mendapatkan penumpang, terutama di luar musim liburan.

Meski demikian, ia tetap datang ke pangkalan setiap pagi. “Kalau tidak mangkal, ya tidak ada harapan dapat penumpang,” katanya. Baginya, bertahan berarti terus memberi ruang bagi andong untuk tetap terlihat dan diingat. Hal yang sama dirasakan Yatidjo. Ia berharap andong tidak hanya dipertahankan sebagai pajangan kota, tetapi juga dihargai sebagai bagian dari kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Menurutnya, keberadaan andong seharusnya dipandang sebagai warisan hidup yang masih berjalan, bukan sekadar simbol masa lalu.

...

Read Entire Article