Membongkar Paradigma Ekonomi Kapitalisme demi Melahirkan Pendidikan Humanis

5 days ago 23
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
 hxdbzxy/ShutterstockIlustrasi anak belajar di dalam kelas. Foto: hxdbzxy/Shutterstock

Sering kali kita bertanya, mengapa sekolah dan kuliah hari ini terasa seperti "pabrik" pencetak ijazah? Jawabannya mungkin bukan pada kurikulumnya, melainkan pada sistem ekonomi yang mendiktenya.

Mekanisme ekonomi kapitalisme yang tumbuh subur pasca-Perang Dingin telah menjadi fondasi utama penggerak dunia (Saeng, 2012). Sayangnya, pendidikan kini seolah "disandera" oleh kepentingan pasar. Nilai-nilai kemerdekaan dalam belajar sulit tumbuh selama masyarakat masih dibayangi ketakutan akan masa depan finansial.

Pendidikan dalam Dikte Kapitalisme

Sejarah mencatat bahwa pola pendidikan sebagai pencetak tenaga kerja murah sudah dimulai sejak zaman kolonial melalui Politik Etis 1901 (Ingelson, 2015). Ironisnya, di abad ke-21, polanya masih serupa.

Data BPS 2024 menunjukkan angka pengangguran lulusan sarjana hingga doktor mencapai lebih dari 842 ribu orang (Young & Ashari, 2025). Di sisi lain, kebijakan PTN-BH mendorong komersialisasi kampus yang membuat biaya kuliah meroket (Nadzifah dkk., 2026). Fenomena ini menciptakan paradoks: biaya pendidikan mahal, namun upah kerja tetap rendah.

Akibatnya, generasi muda menjadi sangat pragmatis. Minat Gen-Z menjadi guru hanya 11% karena upah profesi ini termasuk yang terendah di Asia Tenggara (Ali, 2026). Semua orang berbondong-bondong memilih jurusan STEM atau ekonomi hanya karena "jaminan kerja", bukan karena minat atau potensi diri.

Alienasi dan Hilangnya Nilai Kemanusiaan

Ketika pendidikan hanya fokus pada pemenuhan industri, nilai-nilai humaniora pun tersingkir. Lembaga pendidikan berubah menjadi arena kompetisi untuk menjadi tenaga kerja yang patuh, bukan manusia yang kritis (Illich, 1971). Jika ilmu pengetahuan menjadi bebas nilai dan tidak berpihak pada kemanusiaan, hal ini hanya akan menjadi malapetaka bagi peradaban (Sindhunata, 2025).

Penerapan pendidikan humanis seharusnya mengikuti kerangka pemikiran Jurgen Habermas (1968):

Pembelajaran Teknis: Menguasai sains untuk manfaat alam.

Pembelajaran Praktis: Memahami realitas sosial melalui humaniora.

Pembelajaran Emansipatoris: Menumbuhkan kesadaran untuk melawan penindasan dan menjaga martabat manusia.

Kesimpulan: Ekonomi Sehat, Pendidikan Beradab

Pendidikan tidak bisa berjalan sendiri. Negara harus hadir menyelesaikan ketimpangan upah dan ketersediaan lapangan kerja. Selama "urusan perut" belum selesai, pendidikan humanis hanya akan menjadi slogan indah tanpa makna.

Pemerataan ekonomi adalah kunci. Jika setiap profesi dihargai secara layak, siswa akan bebas mengasah bakatnya tanpa rasa takut. Dari sinilah lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara teknis, tapi juga memiliki empati dan kesadaran kritis untuk membangun peradaban yang adil.

Read Entire Article