Sibuk Mengoleksi Sertifikat, Lupa Memaknai Proses Belajar

4 hours ago 1
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
Ilustrasi ini dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI) ChatGPT dan tidak merepresentasikan kondisi nyata secara langsung.

Sejak pandemi COVID-19, pendidikan di Indonesia mengalami pergeseran besar menuju pembelajaran berbasis digital. Data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menunjukkan bahwa sekitar 45,3 juta pelajar menjalani pembelajaran jarak jauh melalui sistem daring. Lebih dari 4.000 perguruan tinggi dengan sekitar 7 juta mahasiswa dan ratusan ribu dosen beralih ke kelas daring.

Transformasi pendidikan pada skala nasional ini menjadikan kursus, webinar, dan pelatihan daring sebagai salah satu ruang pembelajaran yang dapat dijalani pelajar dan mahasiswa sampai kini. Namun, kemudahan tersebut kerap menggeser orientasi belajar, dimana sertifikat dari hasil webinar dan pelatihan lebih diprioritaskan daripada pemahaman dan penguasaan materi. Kondisi ini mencerminkan krisis makna pendidikan, ketika proses belajar direduksi menjadi urusan administratif, bukan pembentukan kompetensi dan karakter.

Fenomena ini perlahan membentuk budaya belajar yang dangkal di kalangan pelajar dan mahasiswa. Beberapa studi mencatat bahwa selain motivasi untuk belajar, sertifikat dianggap sebagai salah satu alasan signifikan peserta webinar mendaftar. Sehingga wajar jika dalam praktiknya tidak sedikit pelajar dan mahasiswa yang mengejar sertifikat demi portofolio akademik atau karier. Dampaknya, proses pembelajaran seringkali hanya dianggap sekadar formalitas belaka. Fokus berpindah dari mampu memahami dan mengaplikasikan materi menjadi memastikan dokumen itu lengkap.

Dampak negatif dari obsesi sertifikat pun tak terelakkan. Proses pendidikan kehilangan makna ketika hasil lebih dihargai daripada proses. Pola pikir instan juga mendorong perilaku tidak jujur, seperti menyontek atau menjiplak demi nilai akhir. Praktik ini merusak integritas akademik dan etika belajar. Pendidikan pun kehilangan perannya sebagai ruang pembentukan karakter pelajar.

Budaya ini juga membuat suatu persepsi yang keliru dalam menilai kemampuan. Banyaknya sertifikat sering dianggap bukti kecakapan, padahal tidak sedikit peserta yang hanya menjadi “penonton” dalam proses belajar. Karena banyaknya sertifikat dianggap lebih dilihat daripada kemampuan nyata, sehingga kualitas pembelajaran semakin diabaikan.

Selain itu, obsesi sertifikat dapat melemahkan sikap kritis. Ketika tujuan utama hanyalah selembar sertifikat, pelajar tidak terdorong untuk bertanya, berdiskusi, atau menguji gagasan. Proses belajar menjadi pasif dan kehilangan fungsinya sebagai ruang berpikir. Padahal pendidikan adalah ruang proses pembentukan nalar, karakter, dan kompetensi pelajar.

Kondisi ini sejalan dengan pandangan Bryan Caplan dalam bukunya The Case Against Education. Ia menilai pendidikan modern lebih berfungsi sebagai penanda kemampuan bagi pasar kerja. Pendidikan sering kali tidak benar-benar meningkatkan keterampilan peserta didik. Fenomena inflasi sertifikat memperkuat kondisi tersebut. dimana permintaan sertifikat meningkat tanpa diiringi kebutuhan keterampilan yang sepadan.

Pandangan serupa disampaikan Brandon Busteed dalam artikel Forbes. Ia menyoroti bahayanya penekanan berlebihan terhadap diploma atau sertifikat (credential over education). Ini dapat merusak tujuan pendidikan sesungguhnya, sehingga masyarakat mungkin hanya menghargai dokumen daripada kemampuan berpikir kritis dan pemahaman konseptual.

Obsesi sertifikat juga memperlebar jarak antara pendidikan dan dunia kerja. BPS mencatat ada 9,9 juta Gen Z (usia 15-24 tahun) menganggur, dan salah satu penyebab utamanya adalah rendahnya soft skill seperti komunikasi dan interpersonal. Kondisi inilah yang menurunkan daya saing mereka di pasar kerja. Padahal, riset global dari Universitas Harvard, Yayasan Carnegie, dan Stanford Research Center menunjukkan 85% keberhasilan kerja lebih banyak ditentukan kemampuan interpersonal. Ini menunjukkan sertifikat tidak selalu menjamin kesiapan kerja, karena kemampuan, pengalaman, dan soft skill justru sering menjadi penentu di lapangan.

Tantangan dalam sektor pendidikan tidak lain mempertahankan arti dari proses pembelajaran di tengah sistem yang masih fokus pada sertifikat dan persyaratan administratif. Proses pendidikan termasuk aktivitas praktik berisiko dipahami sebagai kewajiban administratif, alih-alih sebagai tempat untuk mengembangkan kemampuan. Pendidikan harus mengedepankan proses pembelajaran sebagai fokus utama. Dengan mengevaluasi pemahaman, keterampilan praktis, soft skill, dan kemampuan beradaptasi sebagai penentu hasil dalam pembelajaran.

Sertifikat memang penting, tetapi bukan segalanya. Bagi pelajar dan mahasiswa, yang jauh lebih esensial adalah proses belajar itu sendiri, bagaimana pemahaman dibangun dan keterampilan diasah, bukan seberapa cepat dan banyak sertifikat diperoleh.

Di sisi lain, lembaga pendidikan perlu memperkuat kualitas proses pembelajaran. Pendidikan tidak boleh berhenti pada urusan administrasi. Proses belajar harus relevan dengan kebutuhan nyata. Penilaian perlu menekankan kemampuan softskill, bukan sekadar kelulusan. Dengan demikian, makna proses belajar tetap terjaga....

Read Entire Article