Menulis bagi saya adalah salah satu bentuk ekspresi diri yang paling efektif dan berpengaruh di tengah riuhnya arus informasi digital saat ini. Melalui untaian kalimat yang saya susun, saya ingin berbagi dan menerima gagasan, pengalaman, dan pengetahuan dengan dan dari orang lain secara melampaui batas ruang dan waktu.
Perjalanan saya sebagai penulis tidaklah selalu mulus. Sering kali, saya dihadapkan pada tantangan dan keraguan yang besar, terutama ketika tulisan-tulisan yang saya kirimkan ke berbagai platform seperti Kompasiana, Kumparan, atau Retizen Republika seolah-olah tidak mendapatkan perhatian yang saya harapkan.
Kegamangan ini mencapai puncaknya ketika seorang rekan kerja dengan nada skeptis berkata kepada saya, "Percuma saja kamu menulis artikel di media daring atau online, tidak akan dibaca oleh pimpinan karena tak tertarik atau tak ada waktu. Toh, kalaupun dibaca, tak akan dibicarakan dalam Rapat Pimpinan, Rapat Senat, Rapat Majelis Wali Amanat. Kamu kan tidak pernah dipanggil mereka untuk mendiskusikan pemikiran kamu itu?"
Ucapan itu sempat membuat saya tertegun, namun saya memilih untuk tidak membiarkan keraguan tersebut menghentikan langkah saya.
Solusi atas kebuntuan komunikasi di lingkungan kerja bukanlah dengan berhenti menulis, melainkan dengan memperkuat kualitas dan tujuan tulisan itu sendiri. Kita harus mulai berpikir bahwa menulis adalah untuk orang lain, dengan tujuan jelas untuk membuat perbedaan, sekecil apa pun itu.
Saya berpendapat bahwa efektivitas sebuah kritik akan meningkat drastis jika disertai dengan gaya bahasa yang persuasif, struktur yang kuat, dan isi yang solutif. Alih-alih hanya mengkritik sistem secara membabi buta, penulis harus mampu menjadi contoh nyata di lapangan dan menunjukkan bahwa gagasan yang dituliskan memang dapat diimplementasikan.
Tulisan tidak lagi dianggap sebagai keluhan belaka, melainkan sebagai cetak biru perubahan yang kredibel. Oleh karena itu, menulis tidak boleh hanya tentang diri sendiri atau sekadar mencari pujian, melainkan harus tentang bagaimana kita memberikan kontribusi nyata kepada kemanusiaan.
Saya menulis karena saya memiliki keyakinan teguh bahwa menulis adalah salah satu bentuk dakwah, yaitu sebuah upaya menyebarkan gagasan dan pemikiran yang bisa bermanfaat bagi orang lain. Saya percaya bahwa pendapat rekan saya tersebut lahir dari cara pandang yang terlalu sempit dalam memaknai kata dampak. Jika kita hanya mengukur keberhasilan sebuah tulisan dari seberapa cepat pimpinan mengubah kebijakan, maka kita akan sering kecewa.
Bagi saya, menulis bukan tentang mencari pujian atau sekadar pengakuan dari otoritas. Saya menulis untuk membuat perbedaan, dan kalaupun tidak ada perubahan sistemik yang besar dalam waktu dekat, setidaknya saya sudah melakukan sesuatu yang positif dan konstruktif daripada sekadar mengeluh di belakang meja.
Menulis bukan hanya tentang pemuasan ego diri sendiri, melainkan tentang bagaimana saya bisa memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat luas. Melalui tulisan, saya bisa membagikan pengalaman dan pengetahuan yang mungkin saja menjadi kunci jawaban bagi masalah orang lain yang tidak pernah saya temui secara fisik.
Tulisan Sebagai Sumber Inspirasi
Saya sangat percaya bahwa setiap tulisan yang saya buat memiliki potensi intrinsik untuk membuat perbedaan. Kalaupun dampak itu tidak muncul sekarang, mungkin ia akan bersemi di masa depan, dan kalaupun ia tidak dibaca oleh banyak orang, mungkin tulisan itu akan sangat berarti bagi satu orang saja yang membutuhkannya.
Bagi saya, itu sudah lebih dari cukup untuk membuat jari-jari saya tetap terus menari-nari di atas papan ketik. Di sisi lain, saya menyadari bahwa menulis adalah sebuah proses yang sangat penting bagi pertumbuhan pribadi saya, melampaui hasil akhirnya.

3 hours ago
3




















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5439875/original/004558000_1765404713-000_87QT9HP.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1784724/original/023805100_1511922219-aws03.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5432329/original/079320000_1764766872-Varian_TECNO_WATCH__Liputan6.comArief_Ferdian_Maulana_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5417262/original/092794200_1763526594-cloudflare-outage.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5435582/original/076987400_1765080408-Andreas_Diantoro_1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3620641/original/042085600_1635848858-thibault-penin-AWOl7qqsffM-unsplash.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5433135/original/058819000_1764836642-Be_My_Eyes_01.png)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5436024/original/001356600_1765153687-eFootball_FIFAe_World_Cup_2025_01.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4674052/original/076994700_1701737215-Trailer_Pertama_GTA_VI_Dirilis_01.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5435865/original/018033100_1765100669-Telkomsat.jpeg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5432850/original/000510200_1764825243-mohamed_salah_pemanasan_liverpool_sunderland_04des25_ap_jon_super.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4674439/original/063778600_1701756971-Trailer_1_Illustration__16x9_.jpg)

