Diplomasi Netral dan Konstruktif Jadi Model Penyelesaian Konflik Global

1 month ago 20
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
 Diplomasi Netral dan Konstruktif Jadi Model Penyelesaian Konflik Global Duta Besar Turki untuk Indonesia, Prof. Dr. Talip Küçükçan saat menyampaikan materinya didepan para peserta konferensi, di Gedung Auditorium UNAS, Rabu (12/11/2025)(Dok ist)

KOLABORASI global yang berlandaskan etika dan realisme politik dipandang penting dalam membangun perdamaian dunia.Hal itu disampaikan Guru Besar Universitas Nasional (Unas) Prof Yuddy Chrisnandi dalam pidato bertajuk How Can The World Move Beyond Cycles Of Conflict And Build A Sustainable Future Where Peace Prevails, pada International Conference on Global Issues (ICGI) 2025, di Jakarta, Rabu (12/11).

Yuddy mengulas dinamika konflik internasional yang masih terus terjadi di berbagai belahan dunia seperti Ukraina, Sudan, Suriah, dan Myanmar. Ia menyebut tantangan utama hubungan internasional saat ini terletak pada dilema antara idealisme global dan kepentingan nasional.
“Dunia modern membutuhkan kolaborasi politik yang etis tanpa kehilangan identitas dan kedaulatan nasional,” ujar Duta Besar Indonesia untuk Ukraina Periode 2017-2021 tersebut.

Ia juga menyoroti lemahnya peran lembaga-lembaga internasional seperti PBB, OECD, G20, dan IMF, yang kini menghadapi ujian eksistensi dan relevansi di tengah meningkatnya ketegangan global, terutama rivalitas antara dua kekuatan besar dunia, Amerika Serikat dan Tiongkok.
Lebih lanjut, Yuddy menilai konflik dan perang berkepanjangan akibat lemahnya kendali negara terhadap wilayahnya, erosi legitimasi pemerintahan, serta ketidakmampuan menyediakan layanan publik.

Ia mencatat lebih dari 15 negara masih dilanda konflik aktif, termasuk Ukraina, Israel–Palestina, dan Myanmar. Sebagai solusi, Prof Yuddy mengusulkan beberapa langkah strategis untuk mendorong perdamaian dunia. Pertama, reformasi keanggotaan Dewan Keamanan PBB agar mencerminkan realitas global dan tidak didominasi lima negara anggota tetap. Kemudian, pelucutan senjata nuklir dan pembentukan komite pemantau independen yang melibatkan negara netral seperti Indonesia dan Australia.

Selain itu, peningkatan kerja sama global dalam restorasi ekologi serta percepatan implementasi Sustainable Development Goals (SDGs). Selanjutnya, penguatan diplomasi dan peran negara-negara netral dalam menjembatani pihak-pihak yang berkonflik.

"Terakhir, upaya menyatukan dua kekuatan besar dunia, AS dan Tiongkok, dalam fondasi kerja sama ekonomi dan keamanan global," ucap dia.
Yuddy juga menegaskan Indonesia telah berperan aktif dalam berbagai misi perdamaian dunia antara lain melalui diplomasi untuk penyelesaian konflik Ukraina–Rusia, Palestina–Israel, serta Myanmar. Ia menilai diplomasi Indonesia yang netral dan konstruktif dapat menjadi model dalam upaya penyelesaian konflik global.

Yuddy pun mengajak akademisi, mahasiswa, dan masyarakat global untuk terus menyuarakan pentingnya perdamaian dan kerja sama internasional demi masa depan umat manusia berkelanjutan.

“Konferensi ini jadi bukti Unas tidak hanya berperan dalam pendidikan, tapi juga aktif menyumbangkan gagasan perdamaian dunia,” pungkasnya.
Ketua Pelaksana ICGI 2025 Robi Nurhadi menyampaikan konferensi ini merupakan wadah penting untuk memperkuat kontribusi akademisi dan generasi muda dalam menjaga stabilitas dunia.

“Perdamaian dunia bukan cuma tugas pemimpin negara, tapi juga tanggung jawab kita semua, akademisi, pelajar, dan masyarakat sipil. Melalui ICGI, Unas berkomitmen menjadi jembatan bagi dialog lintas negara dan budaya untuk menciptakan dunia lebih damai,” katanya.

Konferensi yang memasuki tahun kedua penyelenggaraannya ini dihadiri duta besar dan perwakilan dari berbagai negara. Di antaranya Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Dato’ Syed Mohamad Hasrin Tengku Hussin dan Duta Besar Turki untuk Indonesia Prof Talip Küçükçan.

Selain itu, Kepala Staf TNI AU Periode 2002-2005/Founder & Chairman Pusat Studi Air Power Indonesia Chappy Hakim serta sejumlah akademisi yaitu Prof Makmor Bin Tumin dari Universiti Malaya, Tufan Kutay Boran dari Institute of Area Studies, Lecturer Social Sciences University of Ankara dan lembaga internasional lainnya.(H-2)

Read Entire Article