Narasi Digital Dinilai Menjadi Tantangan Utama Literasi Digital Masyarakat

1 week ago 2
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
Narasi Digital Dinilai Menjadi Tantangan Utama Literasi Digital Masyarakat Ilustrasi(Dok Freepik)

LITERASI digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga dengan kecakapan memahami dan mengkritisi narasi yang beredar di ruang digital. Hal ini disampaikan oleh Ketua DPP Garuda Astacita Nusantara (GAN) Muhammad Burhanuddin.

Di tengah banjir informasi, narasi dinilai menjadi faktor utama yang memengaruhi cara berpikir dan sikap masyarakat sebelum hukum atau kebijakan diterapkan.

“Yang mengatur manusia bukan hanya hukum, tetapi narasi,” ucap Burhanuddin dalam keterangannya, Minggu (25/1). Ia pun menegaskan bahwa pemahaman publik terhadap realitas sosial lebih dulu dibentuk oleh cerita, pembingkaian, dan pengulangan informasi di media digital.

Burhanuddin menjelaskan, narasi bekerja dengan membingkai kenyataan yakni dengan menentukan apa yang dianggap normal, berbahaya, layak didukung, atau patut dicurigai. Dalam ekosistem digital, narasi hadir melalui berita online, video pendek, meme, hingga percakapan yang terus berulang di media sosial dan aplikasi pesan instan.

Literasi Digital dan Pengulangan Informasi

Dalam konteks literasi digital, Burhanuddin melanjutkan, pengulangan informasi menjadi tantangan serius. Ketika sebuah isu terus-menerus muncul di linimasa, masyarakat cenderung menerimanya sebagai kebenaran. Hal ini terjadi bukan semata karena akurasinya, tetapi karena intensitas kemunculannya.

Media dan platform digital memiliki peran besar dalam proses tersebut. Algoritma menentukan konten apa yang sering muncul, sementara logika klik dan viralitas memperkuat narasi tertentu. Akibatnya, apa yang sering terlihat dianggap penting, dan apa yang jarang muncul perlahan menghilang dari kesadaran publik.

Kerangka Foucault dalam Literasi Digital

Burhanuddin pun mengutip pemikir Prancis Michel Foucault yang memberikan perspektif penting untuk memahami fenomena ini. Ia memandang kekuasaan tidak hanya bersifat menekan, tetapi juga produktif. Kekuasaan memproduksi pengetahuan, dan pengetahuan memperkuat kekuasaan, sebuah relasi yang dikenal sebagai power/knowledge.

Dalam kerangka ini, kebenaran tidak berdiri netral, melainkan dibentuk dalam regime of truth, yaitu jaringan wacana, institusi, dan praktik yang menentukan apa yang dianggap benar pada suatu masa. Media digital, termasuk platform media sosial, menjadi bagian dari proses produksi kebenaran tersebut.

Seiring perubahan teknologi, kendali atas narasi bergeser. Jika sebelumnya dikendalikan negara atau korporasi media, kini algoritma platform digital memiliki peran dominan dalam menentukan arus informasi yang dikonsumsi publik.

Dampak terhadap Masyarakat Digital

Foucault menyebut mekanisme pengelolaan masyarakat melalui cara berpikir ini sebagai governmentality. Dalam praktik digital, masyarakat diarahkan untuk mengatur dirinya sendiri sesuai logika yang dianggap 'wajar' dan 'tidak terhindarkan'.

Ketika sebuah isu terus dipresentasikan sebagai ancaman, pembatasan kebebasan mudah diterima. Ketika pembangunan selalu diceritakan sebagai kemajuan, kritik kerap diposisikan sebagai gangguan. Representasi negatif yang berulang terhadap kelompok tertentu juga berpotensi melahirkan stigma digital.

Semua proses tersebut dapat terjadi tanpa paksaan hukum yang keras. Narasi digital dinilai sudah cukup untuk membentuk penerimaan publik.

Literasi Kritis sebagai Kunci

Dalam perspektif literasi digital, kesadaran kritis terhadap narasi menjadi bentuk perlindungan utama. Membaca media dengan jarak, mempertanyakan pengulangan informasi, serta menelusuri kepentingan di balik suatu cerita disebut sebagai kecakapan dasar warga digital.

Bagi Foucault, di mana ada kekuasaan, selalu ada ruang perlawanan. Dalam era digital, perlawanan itu terwujud dalam kemampuan publik untuk tidak menelan informasi secara mentah.

Pada akhirnya, literasi digital tidak hanya soal memeriksa fakta, tetapi juga memahami bagaimana 'kebenaran' dibentuk. Di tengah arus informasi yang deras, kemampuan membaca narasi secara kritis menjadi syarat penting untuk menjaga kebebasan berpikir.

“Yang paling berbahaya bukan kebohongan terang-terangan, melainkan kebenaran yang dibentuk oleh pengulangan tanpa pernah dipertanyakan,” tutupnya. (E-4)

Read Entire Article