Reformasi Polisi di Ujung Tanduk?

1 day ago 9
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
Polisi menangani demonstrasi mahasiswa di Malang. (Foto: Arik Abd muhyi, under the Unsplash license)

Berkernyit dahi saya ketika membaca tulisan The Jakarta Post berjudul “Yearender: Police reform met with doubt amid persistent brutality, impunity”, ditulis oleh Gembong Hanung dan Maretha Uli, terbit 29 Desember 2025. Artikel tersebut bukan sekadar catatan akhir tahun, melainkan juga cermin buram tentang relasi negara dan warga di tengah meningkatnya kekerasan aparat kepolisian.

Alih-alih meredakan krisis kepercayaan publik, agenda reformasi kepolisian justru lahir dalam suasana skeptisisme, bahkan sinisme karena praktik brutal dan impunitas terus berulang.

Dalam negara demokrasi, polisi adalah instrumen sipil yang diberi mandat konstitusional untuk melindungi warga, menegakkan hukum, dan menjaga ketertiban umum.

Ketika kekerasan justru menjadi wajah yang dominan, masalahnya bukan lagi pada individu oknum, melainkan pada desain kelembagaan dan kultur kekuasaan yang menyimpang dari prinsip negara hukum.

Demokrasi, Konstitusi, dan Polisi sebagai Alat Sipil

Konstitusi Indonesia menegaskan Indonesia sebagai negara hukum (Pasal 1 ayat 3 UUD 1945). Prinsip ini mensyaratkan supremasi hukum, perlindungan HAM, dan pembatasan kekuasaan negara, termasuk kekuasaan koersif aparat.

Ilustrasi polisi. Foto: Shutterstock

Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia secara eksplisit menyebutkan bahwa Polri berfungsi sebagai alat negara yang berperan memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat dengan menjunjung tinggi HAM.

Namun, fakta di lapangan menunjukkan jurang antara norma dan praktik. Sepanjang 2025, brutalitas polisi justru meningkat seiring maraknya demonstrasi menentang kebijakan pemerintah.

Ini memperlihatkan kecenderungan klasik dalam demokrasi yang mengalami democratic backsliding: ketika protes warga dibaca sebagai ancaman stabilitas, bukan sebagai ekspresi kedaulatan rakyat.

Ahli demokrasi modern, Larry Diamond, menegaskan bahwa kualitas demokrasi sangat ditentukan oleh sejauh mana institusi koersif negara tunduk pada kontrol sipil dan hukum. Polisi yang bertindak represif terhadap warga sipil adalah indikator melemahnya demokrasi substantif, meski prosedur elektoral tetap berjalan.

Data Kekerasan dan Masalah Impunitas

Investigasi Amnesty International yang mencatat sedikitnya 1.036 korban kekerasan di 19 kota dan 4.194 penangkapan sewenang-wenang sepanjang 2025 adalah alarm keras bagi negara. Angka ini tidak hanya berbicara soal kuantitas kekerasan, tetapi juga soal kegagalan mekanisme pengawasan dan akuntabilitas.

Ilustrasi kekerasan. Foto: panitanphoto/shutterstock

Dalam perspektif teori rule of law yang dikembangkan Tom Bingham, negara hukum mensyaratkan bahwa kekuasaan publik dijalankan secara rasional, proporsional, dan dapat diuji secara hukum.

Ketika aparat kebal dari sanksi, yang lahir adalah rule by law, bukan rule of law: hukum dipakai sebagai alat pembenaran kekuasaan, bukan sebagai pelindung warga.

Masalah impunitas ini juga diperparah oleh lemahnya pengawasan eksternal, termasuk Kompolnas, serta minimnya keberanian politik cabang eksekutif dan legislatif untuk melakukan koreksi struktural terhadap Polri.

Pelajaran dari Negara Lain dan Implikasi bagi Indonesia

Pengalaman berbagai negara menunjukkan bahaya serius jika kepolisian dibiarkan brutal dan tidak akuntabel. Di Filipina—pada era “war on drugs”—kekerasan polisi yang masif justru menghancurkan kepercayaan publik, memperluas budaya takut, dan melemahkan sistem peradilan.