Viral tanpa Empati: Ketika Penderitaan Manusia Menjadi Konten Digital

20 hours ago 1
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
 Ketika Penderitaan Manusia Menjadi Konten Digital Neng Wafa Sofiatul Fauziah(DOK PRIBADI)

MEDIA sosial kini menjadi ruang utama masyarakat menyaksikan berbagai peristiwa kemanusiaan. Hampir setiap hari, linimasa dipenuhi video kekerasan, perundungan, kecelakaan, hingga penderitaan individu tertentu. Ironisnya, banyak peristiwa tersebut tidak lagi dipandang sebagai tragedi kemanusiaan, melainkan sebagai tontonan digital yang dikonsumsi massal.

Alih-alih memunculkan empati, penderitaan manusia justru sering dijadikan konten. Direkam, dibagikan, dikomentari, lalu dilupakan ketika isu baru muncul. Dalam proses ini, korban kerap kehilangan martabatnya. Mereka tidak lagi diposisikan sebagai manusia yang harus dilindungi, tetapi sebagai objek yang bebas dinilai dan dihakimi oleh publik.

Fenomena viral tanpa empati menunjukkan perubahan cara masyarakat merespons persoalan kemanusiaan. Nilai sebuah peristiwa tidak lagi diukur dari dampaknya bagi korban, melainkan dari seberapa ramai perhatian publik yang dihasilkan. Jumlah penonton, komentar, dan pembagian ulang menjadi tolok ukur utama. Kemanusiaan sering kali tersisih oleh sensasi.

Di ruang digital, empati semakin menipis. Tidak sedikit komentar yang menyalahkan korban, membenarkan kekerasan, atau menormalisasi perlakuan tidak manusiawi. Victim blaming dan ujaran kasar seolah menjadi hal biasa. Kondisi ini menunjukkan krisis kepekaan sosial di tengah masyarakat yang semakin terbiasa menilai dari balik layar.

Penerapan Normatif Sila Kedua Pancasila

Realitas tersebut bertentangan dengan nilai dasar bangsa, khususnya Sila Kedua Pancasila, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Sila ini menegaskan bahwa setiap manusia memiliki martabat yang harus dihormati. Nilai beradab mengandung sikap empati, penghormatan, dan tanggung jawab moral dalam memperlakukan sesama.

Namun, nilai tersebut sering berhenti pada tataran normatif. Pancasila diajarkan dan dihafalkan, tetapi belum sepenuhnya diwujudkan dalam praktik sehari-hari, terutama di media sosial. Ketika penderitaan dijadikan konten dan penghakiman menjadi hiburan, maka makna kemanusiaan kehilangan substansinya.

Viralitas bahkan kerap memperparah kondisi korban. Rekaman peristiwa traumatis yang tersebar luas dapat menimbulkan luka baru, baik secara psikologis maupun sosial. Alih-alih membantu pemulihan, eksposur berlebihan justru memperpanjang penderitaan. Dalam konteks ini, publik perlu menyadari bahwa tidak semua peristiwa layak disebarluaskan.

Viralitas untuk Bangun Solidaritas

Menjaga nilai kemanusiaan di ruang digital bukan hanya tanggung jawab negara atau aparat penegak hukum. Masyarakat sebagai pengguna media sosial memegang peran penting. Setiap unggahan dan komentar mencerminkan nilai yang dianut. Media dan platform digital juga memiliki tanggung jawab etis agar tidak semata mengejar perhatian, tetapi mempertimbangkan dampak kemanusiaan.

Sila Kedua Pancasila seharusnya menjadi kompas moral dalam menghadapi budaya viral. Viralitas idealnya digunakan untuk membangun solidaritas dan kepedulian sosial. Bukan untuk mengeksploitasi penderitaan manusia. Empati tidak harus diwujudkan dalam sensasi, tetapi melalui sikap menghormati dan menahan diri dari penghakiman.

Keberadaban bangsa tidak hanya diukur dari kemajuan teknologi, tetapi dari cara masyarakat memperlakukan sesamanya, terutama mereka yang berada dalam posisi rentan. Di tengah derasnya arus informasi, menghidupkan kembali nilai kemanusiaan yang adil dan beradab menjadi tanggung jawab bersama. Ruang digital seharusnya menjadi ruang empati, bukan arena penghakiman.

Read Entire Article